Selasa, 12 Juni 2018

Kim dan Trump "Seng waras kudu ngalah"

Sumber gbr : detik.com


Tanggal 12 Juni 2018, bertepatan dengan hampir berakhirnya bulan Ramadhan 1439 H dalam kalender bulan suci umat Islam sebuah moment bersejarahpun tercatat. Dua musuh bebuyutan paling ditakuti dunia yaitu korut dan AS bertemu di Singapura. Kim Jong Un, sosok pemimpin Korut yang dikenal anti dengan negara kapitalis AS berubah haluan 180 derajat. Negara yg dituduh sebagai ancaman dunia terutama bagi kawasan Asia Pasifik terutama Korsel, Jepang dan AS bersedia berdamai dengan AS.

Sebelumnya Kim Jong Un sudah memiliki niat baik dengan berkunjung ke negara seterunya yaitu Korsel. Kim Jong Un berjabat tangan dengan Presiden Korsel Moon Jae In. Sebuah langkah bagi perdamaian di Asia Pasifik tercipta. Tidak hanya itu saja, korut mulai membuka diri bagi kritik dari dunia internasional akibat uji coba nuklir. Dengan komitmennya yang sungguh-sungguh untuk mematuhi aturan anti nuklir korut mengundang perwakilan jurnalis dari luar negeri untuk meliput berita peledakan di terowongan ujicoba nuklir di korut. Seperti tecatat di situs https://m.detik.com/news/foto-news/4037823/detik-detik-peledakan-3-terowongan-nuklir-korut/1

"Seng Waras Kudu Ngalah"

Donald Trump seorang tokoh kontroversial AS yang sering menuduh negara-negara lain sebagai penjahat perang harus belajar banyak dari Korut.Negara kecil ini memang sangat berbahaya dan dikenal paling anti dengan AS. Bahkan konflik yang sering terjadi di semenanjung Korea akhir-akhir ini adalah akibat kecerobohan AS yang suka bermain api. Lihat saja manuver militer di dekat perairan korea dan latihan perang bersama Korsel adalah salah satu bentuk pelanggaran kedaulatan bagi Korut. Strategi ini akibat dari rasa khawatir AS kepada Korut yang diklaim memiliki senjata Nuklir dan rudal jarak jauh yang siap menghantam AS jika perang terjadi.

AS dan negara sekutu tidak berhasil mengisolasi Korut dari Korsel. Meskipun diembargo bertubi-tubi oleh AS, Korut justru merasa dirinya sedang dizolimi AS. Akhirnya dengan semangat untuk mensucikan diri di bulan Ramadhan yang penuh hikmah ini Kim Jong Un mulai berpikir dengan senjata diplomasi.  Entah mendapat wangsit dari langit atau akibat tekanan dari negara sahabat Kim Jong Un membuktikan bahwa dirinya masih "Waras" dalam tanda kutip. Waras adalah bahasa Kejawen yang artinya Sehat. Atau dalam bahasa Islaminya Sehat Walafiat. ,(lahir dan batin). Kim bersedia meredakan konflik di semenanjung Korea dan memulai rekonsiliasi perdamaian dengan korsel dan AS.

Mungkin banyak pertanyaan kontroversial muncul bagi kita..  Siapa sebenarnya yang waras? Kim Jong Un atau Donald Trump. Bukankah keduanya adalah mirip orang gila yang suka berpikir dan bertindak tanpa menggunakan logika dan akal sehat? Keduanya sering membuat pernyataan kontroversi yang membuat dunia menjadi kacau dan tidak stabil bagi perdamaian? Lalu apa itu definisi kata berikut ini 'seng waras kudu ngalah" menurut tradisi kejawen?

Kontroversi "Seng Waras Kudu Ngalah"

Dibawah ini saya akan mengutip pandangan Anthonia Mathilda dalam situs ini https://www.kompasiana.com/hildayogya1605/yakin-sing-waras-ngalah-terus_587d2b672bb0bd222c47e4c8

"Kalau semua orang waras ngalah, orang gila lah yang akan menguasai dunia ini. Dia akan memanfaatkan "ngalah"nya orang-orang waras. Dia akan teriak bahwa dia (yang tidak waras) inilah pihak yang paling waras. Dia terus teriak ke jalan-jalan, ke medsos, ke pasar, bahkan ke ceramah-ceramah keagamaan."

"Orang-orang yang benar-benar waras pun mendengarnya,kadang menertawakan sinis tentang isi teriakan itu, tapi mereka enggan menanggapi karena mereka menganggap itu sia-sia "wis biarin.. sing waras, ngalah", dan kewarasan mereka tidak perlu dibela karena toh sudah nyata terlihat. "

"Kemudian "si tidak waras" mulai menunjukkan argumen-argumen yang memutar balikkan fakta dan logika tentang kewarasan mereka. Mereka terus berteriak, sehingga orang-orang waras yang sedang depresi, mulai mendengarkan sedikit demi sedikit argumen yang mereka sampaikan. Pengikutnyapun semakin bertambah. Orang-orang yang mendengarkan teriakan merekapun kini mulai mempertanyakan kewarasan dirinya sendiri."

Orang-orang waras mulai menyadari kekeliruan ini setelah beberapa temannya bahkan keluarganya ikut meneriakkan hal yang sama. Saat mereka mulai melakukan diskusi untuk menyampaikan kebenaran, orang-orang yang "tidak waras" meladeni ajakan diskusi itu. Kemudian di saat mereka "yang tidak waras" ini sudah terpojok, mereka lalu mengatakan: "Sing Waras, Ngalah". Si waras terdiam, diapun mulai menyadari inilah efek pembiarannya selama ini. Bahkan diapun mulai meragukan kewarasan dirinya sendiri."

Hakekat "Seng Waras Kudu Ngalah"

Dari kutipan argumen di atas, seolah-olah sang penulis kompasiana tidak setuju dengan cara berpikir "seng waras ngalah".  Bahkan penulis diatas menjustifikasi kalau orang gila yang sebenarnya adalah orang yang menganggap dirinya paling waras. Hal ini justru bertentangan dengan pendapat saya pribadi. Bahwa siapa yang waras atau yang paling waras antara Kim Jong Un atau Donald Trump toh masing-masing orang punya analisanya sendiri.

Menurut hemat saya, orang yang mulai sadar untuk waras dari kegilaannya harus kita beri pujian apalagi ini menyangkut masa depan perdamaian dunia. Saat ini ada pemimpin dunia yang memberi argumen yang kadang sering kontroversial dan membuat keadaan dunia bertambah buruk. Apalagi dunia sekelas super power. Menciptakan ketegangan antar kawasan dan ketika banyak medsos meliput maka menjadi santapan rohani bagi khalayak ramai. Apalagi sekelas Donald Trump.

Jadi apa salahnya "Seng waras kudu ngalah?" daripada sama-sama tidak waras marilah kita bikin suasana yang rukun dan tenang supaya tercipta perdamaian seluruh umat manusia. Dan mungkin Kim Jong Un salah satunya tokoh "seng waras kudu ngalah" yang berperan aktif untuk saat ini. Meski banyak pendukung Kim Jong Un yang anti dengan AS tidak suka dengan gayanya yang sekarang. Sebagai manusia sejati yang cinta damai, Kim Jong Un patut diacungi jempol. Jadi kita bisa tahu siapa manusia yang waras diantara keduanya? Kim Jong Un atau Donald Trump..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar