Rabu, 28 Februari 2018

Awal Sebuah Titik


Oleh : mas Danang

Kita menggunakan hak -masing2 tanpa mengganggu hak orang lain. Sedikitpun tidak boleh ada unsur paksaan, sehingga mengurangi kesucian. Pengertian yang diperoleh harus timbul secara spontan dan wajar (bangkit dengan sendirinya = Qiamu bi - nafshihi), sehingga seorangpun tidak memikul dosa orang lain, bila terjadi penyimpangan. Sebaliknya, bila dirasakan ada manfa'atnya hendaknya berterima kasih kepada Allah dan diharapkan dapat digunakan untuk meringankan beban orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Tidak boleh ada pikiran lain, kecuali keinginan yang intensif untuk mengerti dan mengikuti petunjuk Allah dalam rangka pengabdian selaku manusia terhadap Allah. Dalam hal ini perlu dimengerti, bahwa Allah Maha Kaya, jadi tidak membutuhkan apa2, selain menginginkan umatnya Hidup bahagia. Maka semua itu kita lakukan untuk " mahayu Hayuning buana ", demi kerahayuan umat manusia, sehingga walaupun hanya sekuku hitam, turut pula mempunyai saham dalam pembangunan alam semesta pada umumnya dan pembangunan Indonesia pada khususnya.

Pembangunan meliputi lahir dan bathin dan mengarah kepada keindahan, kesucian dan kesempurnaan. Perbuatan yang tercela apapun alasannya merupakan penyimpangan dari jalan kebenaran. Pikiran dan perbuatan senantiasa dipelihara supaya selaras dengan tujuan.

Jembatan penyebrangan. Peralihan dari suasana alam yang lama menuju yang baru adalah bagaikan jembatan dengan jalur selembut rambut terbelah tujuh.

Maka, sebelum melangkah perlu dipikirkan masak2 terlebih dahulu. Tanya dan jawab sendiri dalam hati :

".........siapa yang mau diantaranya hendak maju kemuka atau mundur kebelakang "
(Alqur'an S. 7 : 37)

Bagi yang sudah siap secara mental, marilah kita mengayunkan langkah pertama.

Awal segala kejadian. Tiap kejadian, peristiwa  dan keadaan diawali oleh sebuah titik, demikian pula halnya dengan perjalanan hidup manusia. !

  Itulah :   "...... suatu ketika dari pada masa yang ia (manusia) belum tersebut sedikit juga " (Alqur'an S. 76 : 1).

Mulailah ia terjun kedalam ruang dan waktu serta melibatkan diri dalam angka2.

Titik tersebut mengandung segala bahan kejadian. Ini adalah benih dari segala benih. Benih hidup, benih peraturan, benih cinta, semua ada padanya.

Dibidang ilmu pengetahuan pun telah diketahui, bahwa ujung jarum setajam apapun merupakan dunia tersendiri, dalam mana terdapat jutaan partikel bergerak secara teratur dan tiada hentinya tanpa terjadi tumbukan.

Jadi, antara penemuan2 dalam ilmu pengetahuan dan pengertian sudah ada pendekatan. Ini berarti, bahwa pengertian diperkuat oleh kemajuan zaman.

Dalam renunganpun yang tampak pertama kali adalah sebuah titik.

Selayang pandangan sebuah titik tidak mempunyai arti apa2. Titik melambangkan sesuatu yang kecil. Didalam geometri dinyatakan sebagai ruang tanpa ukuran. Ini berarti bahwa titik tidak dapat memuat sesuatu.

Bila analisa tersebut dilanjutkan akan berarti, bahwa titik sekaligus ADA dan TIDAK ADA. Disini terdapat suatu kontradiksi yang akhirnya saling mendukung. Dinyatakan ADA bisa, disebut TIDAK ADA juga bisa.

Demikian itu tergantung dari pandangan orang seorang.

Padahal, yang benar itu mestinya hanya ada SATU. Jadi, dalam menghadapi dua perkara, bila yang satu dinyatakan benar tentu yang lain adalah salah.

Mengetahui akan hal itu, maka untuk mengerti kebenaran sejati kita tidak boleh bertolak pada pendapat atau paham, walaupun paham itu disetujui dan dianut oleh orang banyak.

Berpegang teguh pada suatu stelling  dan menarik kesimpulan dari padanya dalam menanggapi semua perkara, hanya karena tiap orang berpedoman  padanya atau karena sulit menemukan gantinya, ditinjau dari sudut falsafah tidaklah menguntungkan.

Penulis adalah Pengajar Panca Daya Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar