Sabtu, 24 Februari 2018

Manusia Kotak


Salam Sejahtera Buat Kita Semuanya. Dalam postingan ini saya pribadi ingin mengajak kepada para pembaca yang budiman untuk senantiasa mendalami dan mengarungi hidup secara lebih bermakna. Semoga tulisan-tulisan ini dapat bermanfaat secara filosofis dan praktis bagi kita semua agar kehidupan yang kita jalani mampu membawa kebahagiaan lahir maupun batin ditengah kondisi dunia yang semakin hari semakin terkotak-kotak oleh berbagai konstruksi ideologi yang terkadang kurang bermanfaat membawa kita pada kehidupan yang damai. 
Selamat menikmati tulisan-tulisan berikut ini. Semoga membawa kedamaian dan kesejukan bagi kita semua. Sebagai pengantar akan saya ulas tentang artikel berjudul manusia kotak. Selamat membaca...



Oleh Musa Asy'arie

Konon kini dunia tidak lagi bulat, tetapi telah menjadi kotak, akibat teknologi digital yang mengolah informasi yang disajikan dalam layar kotak, baik dalam kotak sempit yang bisa disaku ataupun dalam kotak layar besar yang tidak dapat disaku. Kotak- kotak itu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu kantong saku yang satu berpindah ke kantong saku lainnya. Simpel, dinamis dan mempesona. Dari hari ke hari semakin banyak penggunanya, dan ketergantungan manusia pada informasi layar kotak semakin besar dengan menyita waktu yang sangat banyak.

Kehidupan kotak telah masuk sangat dalam pada ranah politik, ekonomi bisnis, sosial budaya, pendidikan, olahraga, seks, perang, hiburan, hukum bahkan agama. Semuanya telah terhubung dalam jaringan yang semakin luas. Bukan hanya tubuh manusia yang memakai baju kotak- kotak, seperti kampanye politik saat pemilu di mana Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia, tetapi juga pikiran manusia yang terkotak- kotak dalam kota ideologi dan agama yang terkotak- kotak.

Kotak ideologi, suku, ras dan agama telah mengkotakkan manusia dalam fanatisme yang sempit. Ideologi, suku, ras dan agama dipandang sebagai suatu kebenaran yang diterima tanpa sarat, karena sudah menjadi bawaan dan kodrat hidup manusia terkotak- kotak dalam keanekaragaman. Manusia dibesarkan dan dididik dalam kotak ideologi, suku, ras dan agama tertentu yang terkotak sejak lahir, tumbuh dewasa, berkembang sampai tua dan akhirnya mati terkubur dalam kuburan yang terkotak atau diletakkan salam kotak kayu yang dikuburkan dalam kotak liang lahat.

Akibatnya manusia hidup dan tergantung pada kotak- kotak kehidupan yang menyala melalui energi listrik. Kemudian daya listrik menghidupkan layar kotak melalui kotak- kotak power bank yang dibawanya serta kemanapun manusia berada. Sepanjang matahari masih bersinar menghidupkan energi kehidupan kotak, maka kehidupan manusia mulai menggeliat pertanda adanya kehidupan. Manusia dan dunia kotak adalah suatu keniscayaan yang makin hari makin tidak bisa ditinggalkan.

Kotak ideologi adalah keniscayaan keanekaragaman perjuangan seorang individu dalam suatu komunitas untuk meraih cita- cita sosial yang melatar belakangi kehidupannya. Kotak ideologi dirumuskan oleh pendiri dan peletak dasar dan cita- cita politik untuk mendapatkan kekuasaan, karena ideologi tanpa kekuasaan akan sia-sia, sebaliknya kekuasaan akan menjadi sia-sia tanpa landasan ideologis yang jelas dan kuat. Pendiri dan peletak dasar ideologi politik adalah para filsuf yang mengajarkan hakikat suatu kebenaran dan perlunya perjuangan untuk merealisasikan kebenaran ideologis.


Kotak sejatinya ras dan kesukuan adalah keniscayaan kodrat sejak kelahirannya, karena manusia lahir dengan membawa kodrat ras dan kesukuan yang tidak bisa ditolaknya, dan secara simbolis melekat pada nama yang disandangnya. Antara suku dan ras tertentu mempunyai ciri-ciri penamaan yang berbeda antara suku dan ras tertentu menjadi lentur dan digabung-gabung, sehingga anak yang lahir dalam suku dan ras jawa menggunakan campuran nama-nama
yang mengglobal.

Kotak agama juga tidak bisa dihindarkan, karena sejak lahir seseorang sudah membawa kodrat agama yang dibawa oleh orang tuanya. Bahkan yang tidak beragamapun sebenarnya juga beragama dengan tidak beragama itu sendiri. Agamanya adalah tidak beragama itu sendiri. Kotak agama dibawa oleh para nabi yang dipercayai sebagai utusan Tuhan dan membawa firmanNya kepada umat manusia. Para nabi dipercayai sebagai pembawa kebenaran absolut, karena kebenaran yang diwartakan pada nabi adalah kebenaran Tuhan. Kotak agama dengan sendirinya berkotak dengan kotak yang dianggap absolut, dan dalam perkembangan memicu konflik sosial kekerasan karena landasan absolutisme yang tidak bisa diperdebatkan lagi.

Teknologi digital telah mengubah kehidupan manusia secara fundamental, karena telah mengubah pola dan tata hubungan antar manusia-manusia, mengubah konsep pasar dan lingkungan pertemanan, mengubah sistem pendidikan, bahkan mengubah sistem peperangan dan persenjataan yang canggih. Teknologi digital telah menyediakan apa yang dibutuhkan manusia  untuk menuju surga ataupun menuju neraka, baik dan buruk diperlihatkan secara telanjang dan menginspirasi banyak orang untuk nemberikan responnya baik yang positif maupun yang negatif.

Hadirnya teknologi digital dalam realitas kehidupan sejatinya tidak netral lagi, karena sepenuhnya terkait dengan kepentingan dunia industri yang melahirkannya. Orang terkaya di dunia sekarang ini lahir dari bisnis teknologi digital seperti Bill Gate. Tidak netral bukan dari sisi moralitas yanh berkaitan dengan baik atau buruk, tetapi dalam arti keberpihakan kepentingan, karena begitu manusia sudah masuk dalam budaya teknologi digital, maka seterusnya akan bergantung pada teknologi digital tersebut, bahkan melupakan tanggung jawab individualnya kepada orang lain. Ketergantungan yang membuat bisnis teknologi digital makin meluas dan melupakan dimensi kemanusiaannya

Sebagai suatu produk teknologi industri, maka teknologi digital adalah tidak netral, tidak bisa dikenakan sangsi moral baik atau buruk, semuanya tergantung pada manusia penggunanya siapa dan untuk tujuan kebaikan atau keburukan. Ketika manusia menggunakannya untuk tujuan kebaikan atau keburukan. Ketika manusia menggunakannya untuk kejahatan, maka teknologi digital tidak bisa dimintai pertanggungjawaban hukum, karena yang menjadi subjek dan objek hukum adalah manusianya. Keberpihakan teknologi digital dalam berbagai bentuknya adalah keberpihakan kepada kepentingan industrial yang melatarbelakanginya, dan penguasaan teknologi digital akan mengakibatkan terjadinya kesenjangan yang makin tajam antara yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kecanggihan teknologi yang digunakannya.

Realitas manusia kotak akan makin terkotak oleh kotak teknologi digital yang semakin mengkotak ideologi, suku, ras dan agama, dan semuanya kotak-kotak itu menguasai kehidupan manusia. Dan yang memprihatinkan adalah ketika standar kebenaran ditentukan oleh kotaknya, bahkan kebenaran yang diterima sebagai sesuatu yang absolut. Dehumanisasi secara fundamental telah terjadi dengan kecenderungan untuk saling menyalahkan pihak yang lainnya. Tidak jarang dunia kebenaran dalam kotak menimbulkan konflik kekerasan sosial yang berdarah-darah.

Adakah jalan keluar bagi manusia modern saat ini untuk keluar dari pemutlakan kotak-kotak ideologi, suku, ras, dan agama yang telah mengkotak-kotak kehidupannya? Semuanya akan terpulang pada manusianya sendiri apakah mereka dapat mengambil jarak dan keluar dari kotaknya, meskipun hanya sementara untuk mengkritisi dan mengevaluasi dirinya yang berada dalam kotak-kotak itu? Dengan mengambil jarak, manusia dapat berpikir ulang mengenai jati dirinya sebagai mahluk transendental.

Penulis adalah Guru Besar Filsafat Islam, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar